Isi Artikel Utama

Abstrak

Masjid Al-syuro atau dikenal juga dengan Masjid Cipari merupakan salah satu masjid tertua di Kabupaten Garut. Masjid ini memiliki ciri khas yang berbeda dengan mayoritas masjid lainnya di Indonesia. Masjid yang merupakan salah satu masjid tertua di Garut ini juga menggunakan desain masjid yang tidak biasa yaitu menggunakan desain Art Deco. Art Deco adalah gaya arsitektur yang populer pada era tahun 1920-an hingga 1930-an. Gaya ini terkenal karena keindahan geometris, pola ornamentik yang rumit, dan penggunaan material yang mewah. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengevaluasi dan memeriksa elemen-elemen Arsitektur Art Deco yang ditemukan pada Masjid Al-syuro di Garut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi langsung, analisis visual, dan studi literatur. Observasi langsung dilakukan di Masjid Al-syuro untuk mengidentifikasi dan mempelajari elemen-elemen Art Deco yang ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Masjid Al-syuro mengandung beberapa elemen Arsitektur Art Deco. Salah satu elemen yang menonjol adalah penggunaan geometri yang kuat dalam bentuk bangunan dan ornamen. Pola geometris seperti zigzag, lingkaran, dan segitiga dapat ditemukan pada atap, dinding, dan hiasan masjid. Selain itu, penggunaan material seperti beton bertekstur, batu alam, dan kaca berwarna juga mencerminkan pengaruh Arsitektur Art Deco.

Kata Kunci

Arsitektur Art Deco Garut Elemen-Elemen Arsitektur Masjid Al-Syuro Pola Geometris Pengaruh Sejarah

Rincian Artikel

Cara Mengutip
Zaman, M. B., & Azima, T. M. (2023). Analisis Elemen-Elemen Arsitektur Art Deco pada Masjid Al-Syuro. JIDAR: Jurnal Ilmiah Urban Desain Dan Arsitektur, 1(1), 1-8. Diambil dari https://jurnal.itg.ac.id/index.php/jidar/article/view/1334

Referensi

[1] laksmi kusuma wardani and avelea isada, “gaya desain kolonial belanda pada interior gereja katolik hati kudus yesus surabaya,” dimens. Inter., vol. 7, pp. 52–64, 2009.
[2] m. D. I. Tii and o. I. Imadudin, “peranan kiai dan pesantren cipari garut,” vol. 2, no. 1, pp. 48–65, 2010.
[3] d. Enjelina k. Gunawan and r. Prijadi, “reaktualisasi ragam art deco dalam arsitekturkontemporer,” reaktualisasi ragam art deco dalam arsitekturkontemporer, vol. 8, no. 1, pp. 1–14, 2011.
[4] m. Syaom barliana iskandar, “tradisionalitas dan modernitas tipologi arsitektur masjid,” dimens. (jurnal tek. Arsitektur), vol. 32, no. 2, pp. 110–118, 2004.
[5] m. Syaom barlina, “perkembangan arsitektur masjid : transformasi bentuk,” j. Terakreditasi nas. Hist., 2008.
[6] d. S. Bismoko, “analisis teknologi masjid cipari yang bergaya arsitektur indo-eropa,” kalpataru, vol. 30, no. 2, pp. 127–140, 2021, doi: 10.24832/kpt.v30i2.858.
[7] a. Maharani, “masjid cipari, masjid tertua dan unik di garut,” pp. A369–a374, 2017, doi: 10.32315/sem.1.a369.
[8] d. K. Aziz, “akulturasi islam dan budaya jawa,” fikrah, vol. I, no. 2, pp. 253–286, 2015.
[9] g. A. Putra, “identifikasi urban actors pada pembentukan ruang ketiga (thirdspace) di ruang publik urban. Studi kasus: koridor jl bandung, malang.,” j. Pawon, vol. Ii, no. 2, pp. 87–96, 2018.
[10] m. Pinem, “sejarah, bentuk dan makna arsitektur gereja gpib bethel bandung,” j. Lekt. Keagamaan, vol. 14, no. 2, p. 347, 2016, doi: 10.31291/jlk.v14i2.505.
[11] y. S. Rukmana, “perkembangan arsitektur masjid asy-syuta cipari desa sukarasa, kecamatan pangantikan, kabupaten garut tahun 1936-2000,” bitkom research, vol. 63, no. 2. Pp. 1–3, 2018.