Main Article Content

Abstract

Indonesia merupakan negara yang memegang peran penting perekonomian nasional pada sektor pertanian. Perubahan iklim ekstrem di Indonesia megakibatkan terjadinya perubahan musim ditandai dengan hujan berakhir lebih awal dan panjang musim hujan menjadi lebih pendek. Berdasarkan hal tersebut, maksud penelitian ini adalah untuk menganalisis kebutuhan dan ketersediaan air sehingga dapat ditetapkan pola tanam yang efektif untuk daerah irigasi Citameng II seluas 341 ha. Debit andalan sungai terbesar 1570 lt/detik dengan menggunakan Metode FJ Mock dengan luas DAS 32,118 km2. Perhitungan kebutuhan air pada daerah irigasi Citameng II di pintu pengambilan menggunakan data klimatologi selama 15 tahun dengan Metode Penman-Monteith dengan luas lahan 341 ha sebesar 1,63 lt/detik/ha. Berdasarkan perhitungan CROPWAT 8.0 kebutuhan pengambilan air pada daerah irigasi Citameng II didapat kebutuhan air yang diperlukan 1,34lt/detik/ha. Berdasarkan perhitungan faktor K ketersediaan air sawah masih tercukupi pada bulan Januari sampai dengan bulan Juni kemudian pada bulan November sampai Desember air mengalami defisit dan pada bulan Juli sampai Desember ketersediaan air tidak bisa mencukupi seluruh lahan maka pemberian air secara bergilir perlu dilaksanakan di petak tersier atau di saluran sekunder.

Keywords

Bendung CROPWATT 8.0 Irigasi Ketersediaan Air

Article Details

How to Cite
[1]
S. Permana and D. P. Ramadhan, “Analisis Kebutuhan dan Ketersediaan Air Irigasi Daerah Irigasi Citameng II Kabupaten Garut ”, Jurnal Konstruksi, vol. 20, no. 1, pp. 103-114, Jun. 2022.

References

[1] I. M. Sudarma and A. R. As-syakur, “Dampak Perubahan Iklim Terhadap Sektor Pertanian Di Provinsi Bali,” SOCA J. Sos. Ekon. Pertan., vol. 12, no. 1, p. 87, 2018, doi: 10.24843/soca.2018.v12.i01.p07.
[2] D. Roberts, R. Pidcock, Y. Chen, S. Connors, and M. Tignor, “Global Warming of 1.5°C,” 2019.
[3] A. S. Mulyani, “Pemanasan Global, Penyebab, Dampak dan Antisipasinya,” Artik. Pengabdi. Masy., pp. 1–27, 2021.
[4] Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, “Roadmap Nationally Determined Contribution (NDC) Adaptasi Perubahan Iklim,” vol. 4, pp. 763–773, 2020.
[5] N. Herlina and A. Prasetyorini, “Effect of Climate Change on Planting Season and Productivity of Maize (Zea mays L.) in Malang Regency,” J. Ilmu Pertan. Indones., vol. 25, no. 1, pp. 118–128, 2020, doi: 10.18343/jipi.25.1.118.
[6] mhd afwan, “Pengaruh Pengelolaan Jaringan Irigasi Terhadap Produktifitas Kawasan Pertanian dan Perikanan Desa Koto Pangean Kecamatan Pangean Kabupaten Kuantan Singingi,” PENGARUH PENGELOLAAN Jar. Irig. TERHADAP Produkt. Kaw. Pertan. DAN Perikan. DI DESA KOTO PANGEAN Kec. PANGEAN KABUPATEN KUANTAN SINGINGI, vol. 4, no. 1, pp. 2013–2015, 2021.
[7] BSN, “SNI 7745:2012. Tata cara penghitungan evapotranspirasi tanaman acuan dengan metode Penman-Monteith,” vol. RSNI T-01, p. 17, 2004.
[8] Kementrian PUPR, “Modul Analisis Hidrologi Perencanaan Embung.” 2018.
[9] Direktorat Jendral SDA, “Standar Perencanaa Irigasi 01,” J. Chem. Inf. Model., vol. 53, no. 9, pp. 1689–1699, 2013.
[10] Aprizal and N. Yuniar, “Kajian Pola Tanam Daerah Irigasi Sekampung Sistem Provinsi Lampung,” War. LPM, vol. 23, no. 2, 2020, doi: 10.23917/warta.v23i2.10950.
[11] H. Shalsabillah, K. Amri, and G. Gunawan, “Analisis Kebutuhan Air Irigasi Menggunakan Metode Cropwat Version 8.0,” Inersia, J. Tek. Sipil, vol. 10, no. 2, pp. 61–68, 2019, doi: 10.33369/ijts.10.2.61-68.
[12] A. Ketersediaan et al., “Analisis Ketersediaan Air Sungai Talawaan Untuk Kebutuhan Irigasi Di Daerah Irigasi Talawaan Meras Dan Talawaan Atas,” Tekno, vol. 13, no. 64, pp. 48–55, 2015.
[13] R. G. Allen, L. S. Pereira, D. Raes, and M. Smith, “FAO Irrigation and Drainage Paper No. 56 - Crop Evapotranspiration,” no. 56, 1998.