Isi Artikel Utama

Abstrak

Stabilisasi tanah merupakan salah satu jenis perbaikan tanah yang bertujuan untuk meningkatkan kekuatan tanah, kekakuan tanah, pengurangan plastisitas dan potensi kembang susut, serta meningkatkan stabilitas tanah. Semen merupakan salah satu bahan stabilisasi yang telah banyak digunakan dan cocok. Namun, penggunaan semen dalam jumlah yang besar akan menghasilkan emisi gas rumah kaca dan mengancam ketersediaan sumber daya alam. Maka dari itu, abu daun bambu dapat dijadikan sebagai bahan untuk mereduksi penggunaan semen. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan variasi campuran penambahan abu daun bambu dan semen yang paling signifikan terhadap kenaikan daya dukung tanah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengujian di laboratorium. Pengujian yang dilakukan adalah sifat fisis tanah (kadar air, berat isi, berat jenis, analisis saringan, dan batas atterberg), pengujian pemadatan tanah, dan pengujian CBR soaked. Stabilisasi tanah dikombinasikan dengan 5% semen dan variasi abu daun bambu sebesar 5%, 10%, 15%, dan 20% dari berat sampel tanah asli. Tanah asli diklasifikasikan ke dalam kelompok A-2-7 berdasarkan AASHTO (American Association of State Highway and Transporting Official) dan termasuk ke dalam SC (pasir berlanau, campuran pasir-lempung) berdasarkan USCS (Unified Soil Classification System) dengan plastisitas sedang. Pada variasi penambahan 5% semen dan 5% abu daun bambu, nilai berat isi kering maksimum mengalami peningkatan yaitu 1,24 gram/cm3 dengan kadar air optimum 35,22% . Nilai CBR juga diperoleh peningkatan sebesar 31,84% dan menurunkan potensi pengembangan (swelling) menjadi 0,303% dengan kategori pengembangan rendah. Namun, jika melebihi variasi tersebut maka potensi pengembangan menjadi meningkat. Maka dari itu, dengan variasi penambahan 5% semen dan 5% abu daun bambu dapat berpengaruh signifikan terhadap daya dukung tanah.

Kata Kunci

Abu daun bambu Eksperimental Semen Stabilisasi tanah

Rincian Artikel

Referensi

[1] A. Zhafirah, S. Permana, M. Daris, and D. Yogawsara, “Comparative analysis of soft soil consolidation time due to improvement using Prefabricated Vertical Drain,” IOP Conf. Ser. Mater. Sci. Eng., vol. 1098, no. 2, p. 022056, Mar. 2021, doi: 10.1088/1757-899X/1098/2/022056.
[2] A. A. Firoozi, C. Guney Olgun, A. A. Firoozi, and M. S. Baghini, “Fundamentals of soil stabilization,” Int. J. Geo-Engineering, vol. 8, no. 1, p. 26, Dec. 2017, doi: 10.1186/s40703-017-0064-9.
[3] E. A. Kabdiyono, “PENGARUH PENAMBAHAN ABU DAUN BAMBU (BLA) DAN KAPUR TERHADAP NILAI CBR PADA STABILISASI TANAH LEMPUNG BERLANAU UNTUK KONSTRUKSI JALAN,” J. Ilm. Desain Konstr., vol. 18, no. 1, pp. 92–107, Jun. 2019, doi: 10.35760/dk.2019.v18i1.1961.
[4] W. Fathonah, E. Mina, R. I. Kusuma, and D. Y. Ihsan, “Stabilisasi Tanah Menggunakan Semen Slag Serta Pengaruhnya Terhadap Nilai California Bearing Ratio (CBR) (Studi Kasus: Jl. Munjul, Kp. Ciherang, Desa Pasir Tenjo, Kecamatan Sindang Resmi, Kabupaten Pandeglang),” J. Fondasi, vol. 9, no. 1, May 2020, doi: 10.36055/jft.v9i1.7688.
[5] E. Fabiano et al., “Improving geotechnical properties of a sand-clay soil by cement stabilization for base course in forest roads,” African J. Agric. Res., vol. 12, no. 30, pp. 2475–2481, Jul. 2017, doi: 10.5897/AJAR2016.12482.
[6] H. Afrin, “A Review on Different Types Soil Stabilization Techniques,” Int. J. Transp. Eng. Technol., vol. 3, no. 2, p. 19, 2017, doi: 10.11648/j.ijtet.20170302.12.
[7] Sofwan and S. Nurdin, “Bearing Capacity Improvement of Expansive Soil: Stabilization with Cement and Iron Oxide Additive,” MATEC Web Conf., vol. 331, p. 02005, Dec. 2020, doi: 10.1051/matecconf/202033102005.
[8] H. Jafer, I. Jawad, Z. Majeed, and A. Shubbar, “The development of an ecofriendly binder containing high volume of cement replacement by incorporating two by-product materials for the use in soil stabilization,” Przegląd Nauk. Inżynieria i Kształtowanie Środowiska, vol. 30, no. 1, pp. 62–74, Apr. 2021, doi: 10.22630/PNIKS.2021.30.1.6.
[9] E. Mina, W. Fathonah, R. I. Kusuma, and N. Abdurrasyid, “Pemanfaatan Semen Slag untuk Stabilisasi Tanah dan Pengaruhnya Terhadap Nilai CBR Berdasarkan Variasi Kadar Air Sisi Basah Optimum,” J. Ilm. Rekayasa Sipil, vol. 18, no. 2, pp. 132–140, Oct. 2021, doi: 10.30630/jirs.v18i2.648.
[10] A. G and T. N, “Review on Partial Replacement of Cement in Concrete by Using Waste Materials,” Int. Res. J. Multidiscip. Technovation, Nov. 2019, doi: 10.34256/irjmtcon76.
[11] G. Habert et al., “Environmental impacts and decarbonization strategies in the cement and concrete industries,” Nat. Rev. Earth Environ., vol. 1, no. 11, Nov. 2020, doi: 10.1038/s43017-020-0093-3.
[12] M. M. H. Khan, J. Havukainen, and M. Horttanainen, “Impact of utilizing solid recovered fuel on the global warming potential of cement production and waste management system: A life cycle assessment approach,” Waste Manag. Res. J. a Sustain. Circ. Econ., vol. 39, no. 4, Apr. 2021, doi: 10.1177/0734242X20978277.
[13] A. S. A. Rahman, I. B. M. Jais, N. Sidek, J. Ahmad, and M. I. F. Rosli, “Bamboo leaf ash as the stabilizer for soft soil treatment,” IOP Conf. Ser. Earth Environ. Sci., vol. 140, p. 012068, Apr. 2018, doi: 10.1088/1755-1315/140/1/012068.
[14] I. J. Inim, U. E. Affiah, and O. O. Eminue, “Assessment of bamboo leaf ash/lime-stabilized lateritic soils as construction materials,” Innov. Infrastruct. Solut., vol. 3, no. 1, p. 32, Dec. 2018, doi: 10.1007/s41062-018-0134-7.